Konon katanya, sejak abad ke 15 telah terjadi peperangan besar di Paloh
yang melibatkan “orang halus” Adapun orang halus tersebut berasal
dari Jawa, Brunei dan Pahang. Saking hebat dan lamanya peperangan berlangsung,
maka turunlah empat dewa dari “kahyangan” Keempat dewa tersebut merupakan saudara sekandung,
alias kakak beradik. Turunnya keempat dewa itu
bertugas untuk mendamaikan pertikaian sengit yang telah berlangsung
lama. Selain itu juga, masing-masing dari mereka mempunyai tugas khusus. Dewa
yang tertua bertugas menjaga harta yang ada di atas bukit, dewa yang tengah
menjaga daerah rawa, dewa yang muda menjaga di pinggir sungai, sedangkan yang
bungsu menjaga di tengah-tengah sungai. Dengan pembagian tugas seperti ini,
maka seluruh penjuru “tanah Paloh” sudah dijaga ketat oleh keempat dewa
itu, atau dengan kata lain sudah terlindungi dari ancaman “orang halus” yang jahat. Dengan keberadaan mereka di
Paloh, maka dibuatlah suatu peraturan tegas , bagi siapa yang melakukan
peperangan atau bersikap tidak benar akan diberi hukuman seberat-beratnya. Hal
itu bukan hanya diperuntukkan buat “orang halus” tapi berlaku sampai
sekarang buat manusia kasat mata.
Selang beberapa tahun kemudian, orang-orang “borneo” pada umumnya melakukan hubungan dagang
dengan pulau Jawa. Banyak saudagar dan pedagang dari Jawa membawa emas, intan
dan barang tambang lainnya dari pulau Borneo ke pulau mereka. Karena
terjalinnya hubungan dagang yang sangat menguntungkan di antara kedua belah
pihak, maka kerajaan Jawa melihat hal tersebut sebagai sebuah jalan sutera bagi
mereka untuk lebih mengenal borneo secara mendalam, terutama mencari harta
kekayaan berupa barang tambang lainnya. Mereka ingin memastikan apakah benar
pulau Borneo menyimpan harta kekayaan terpendam yang sementara ini belum pernah
dijamah oleh bangsa asing. Maka dari situlah istilah penyebutan borneo untuk
Kalimantan sekarang. Borneo berasal dari kata berlian, atau dengan kata lain “tanah yang banyak menyimpan harta kekayaan
(symbol dari berlian)”.
Untuk memastikan dan membuktikan rasa penasaran itu, maka diutus oleh
kerajaan Jawa dua kapal layar untuk melakukan ekspedisi ke pulau Borneo. Kapal
layar yang pertama dinakhodai oleh si muda dan si bungsu. Sedangkan kapal layar
yang kedua dinakhodai oleh Raden Martil dan Pangeran Marta. Mereka dijaga oleh
pengawalnya yang setia beserta juragan yang bijaksana. Berbulan-bulan kedua
kapal layar itu berada di lautan luas demi satu tujuan untuk menunaikan titah
raja Jawa yang ingin mendapatkan kabar gembira mengenai keberadaan harta
kekayaan di pulau Borneo. Akan tetapi di tengah perjalanan, kapal layar mereka
terpisah dikarenakan badai laut menerjang dan mengalihkan haluan layar kapal
mereka. Akibatnya mereka berlainan arah dan terpisah, dimana kapal layar milik
Raden Martil dan Pangeran Marta terdampar di pulau borneo bagian selatan.
Sedangkan si bungsu dan si muda tersesat di bagian hulu sungai Paloh. Karena
daerah hulu sungai pada saat itu dangkal, maka kapal layar yang ditumpangi si
muda dan si bungsu terkandas dan menabrak batu di tengah sungai. Kebetulan batu
tersebut dijaga oleh dewa yang bungsu, sontak membuat ia menjadi kaget dan
marah. Maka dewa yang bungsu segera mengadukan perihal ini kepada tiga
saudaranya. Setelah diadukan, keempat dewa tersebut menindak tegas kapal layar
milik si muda dan si bungsu dengan menahannya. Peraturanpun dibuat, si bungsu
tidak boleh naik ke darat, sedangkan si muda diperbolehkan. Sebagai alasannya,
si bungsu dianggap masih terlalu kerdil dalam masalah ilmu kebatinan. Dia masih
belum bisa berkomunikasi secara aktif dengan keempat dewa penjaga hulu sungai
Paloh. Mata batinnya belum terbuka dan masih menyimpan sikap serta tingkah laku
yang kurang baik. Hal ini dikarenakan usianya yang masih terbilang muda dan
labil dalam hal emosi. Sedangkan si muda sudah dianggap dewasa dalam segi
berfikir dan membuat keputusan. Inilah menjadi bahan pertimbangan keempat dewa
tersebut, apalagi si muda sudah mumpuni dalam hal ilmu kebatinan. Buktinya ia
sanggup menembus alam “bunian”
kota Paloh. Ia dengan leluasa memasuki tabir-tabir misteri alam bunian yang
sukar ditempuh dengan mengandalkan mata kasar.
Hari berganti hari, tak terasa sudah sedemikian lama si bungsu menunggu
kakaknya (si muda) di bawah bukit. Orang yang ditunggu-tunggu sampai sekarang
belum tiba juga. Apakah gerangan yang telah terjadi terhadap si muda nun di
atas sana (bukit). Maka timbul prasangka buruk si bungsu, apakah kakaknya masih
bernyawa ataupun sudah tiada. Timbul hasratnya untuk menemui dan menjemput
pulang si kakak, tapi apakan daya “bekal
diri”
untuk menembus pintu ghaib di tempat ini belum memadai. Dengan berat hati si
bungsu termangu sambil terus menunggu di bawah. Untuk mempertahankan hidupnya,
ia makan dari buah-buahan dan ikan yang hidup di hulu sungai itu.
Bertolak belakang dengan kehidupan si bungsu, kakaknya hidup bergelimang
kenikmatan dan kesenangan. Semua yang ia inginkan terpenuhi. Kehidupannya
sangat terjamin dibandingkan semasa ia mengabdi di kerajaan Jawa. Dewa-dewa
kahyangan sangat memberikan perhatian lebih kepada si muda, dikarenakan sikap
dan tingkah laku beliau sangat sesuai dengan gaya hidup para dewa. Tutur
katanya santun, perangainya elok, ucapannya jujur dan sangat mematuhi peraturan
yang telah dibuat oleh para dewa. Disamping itu, si muda terkenal dengan sakti
mandragunanya. Hal itulah yang membuat para dewa berfikir akan menjadikan si
muda sebagai penguasa kota Paloh. Harapannya, dengan kesaktian yang
dimilikinya, suatu saat mampu menjaga kota Paloh dari ancaman “makhluk halus”
yang sewaktu-waktu bakal menyerang. Jika hal itu terwujud, maka keempat dewa
tersebut sudah dapat kembali lagi ke kahyangan dan segera meninggalkan tugasnya
di bumi.
Akhirnya, harapan itu menjadi kenyataan. Dari hari ke hari si muda semakin
kerasan tinggal bersama dewa di alam “bunian”nya.
Tingkah lakunya sudah layak dikatakan sebagai manusia setengah dewa. Sebelum
dilakukan acara pelantikan, terlebih dahulu para dewa menanyakan kesanggupan si
muda untuk menjadi seorang raja. Setelah menyatakan kesanggupannya, si muda dan
para dewa membuat suatu perjanjian ghaib, yang mana isinya adalah barangsiapa
yang menjadi penguasa kota Paloh hendaknya menjadi pemimpin yang benar, jujur
dan tidak melanggar peraturan yang telah dibuat oleh keempat dewa sebelumnya. Jika
hal itu dilanggar, maka akan turun hukuman yang setimpal menimpa kota Paloh. Itulah
menandakan dan menjadi ciri khas bagi kota Paloh sebagai kota kebenaran.
Kebenaran disini dimaksudkan sebagai kebenaran dalam tingkah laku, tutur kata
dan bijak dalam mengambil keputusan. Orangnya disebut sebagai orang kebenaran.
Dari sinilah tertanam prinsip bagi orang Paloh, jika masih ada ketidakjujuran
dan kemunafikan, maka tidak layak orang itu (baik pemimpin maupun rakyat biasa)
dikatakan sebagai orang Paloh Kebenaran.
Kesepakatanpun dimulai, maka dilantiklah si muda menjadi penguasa kota
Paloh dengan segala tugas berat yang akan diembannya. Oleh para dewa, si muda
diberi gelar Raja Muda. Untuk mengungkapkan rasa khidmatnya, Raja Muda memberi
nama kerajaannya dengan sebutan “Batu
Bejamban”.
Mengapa disebut Batu Bejamban? Karena jalan menuju istana kerajaan ghaib Raja
Muda disusun diatas tumpukan batu yang menyerupai tangga. Arah tangga tersebut
menuju ke atas bukit, dimana tiap ruas lereng bukit terdapat 7 sumur air yang
tidak pernah kekeringan. Di sumur itulah tempat Raja Muda dan prajuritnya
mandi. Karena letak sumber airnya yang sangat dalam, maka Raja Muda kadang
mengalami kesukaran untuk menimba air dengan posisi berdiri. Tak pelak lagi,
Raja Muda terpaksa berjongkok dengan lutut kanan menimpa batu dan tangan kiri
bertahan di atas batu yang dialiri air pegunungan. Semakin sering Raja Muda dan
prajuritnya melakukan kebiasaan seperti itu, mengakibatkan terbentuknya
cekungan-cekungan pada batu yang ditimpa tadi. Cekungan itu menyerupai lutut
dan siku tangan manusia. Siapa lagi kalau bukan bekas cekungan salah satu anggota
tubuh Raja Muda dan prajuritnya yang sering mengambil air di sumur itu.
Kembali lagi ke cerita si bungsu, bagaimana dengan nasibnya sekarang? Ia
hidup sebatangkara di tepian hulu sungai. Kadang mengumpulkan bahan makanan
dari hutan dan meramunya di atas kapalnya yang terdampar. Ia masih setia
menunggu kakaknya yang tiada kabar berita. Ia takut pulang ke Jawa sendirian,
sebab pertanggungjawaban dengan raja akan semakin berat. Selain itu, si bungsu
tidak punya nyali untuk mengemudikan kapal layarnya dikarenakan pengalamannya
yang masih terbatas. Maka diurungkanlah niatnya untuk meninggalkan tempat
dimana mereka berdua terdampar. Selama berdiam disitu, si bungsu sering
melakukan pelanggaran atas peraturan yang dibuat oleh para dewa sebelumnya. Ia
sering mengganggu kehidupan hewan di hutan, tumbuh-tumbuhan dan malah acapkali
mengotori aliran sungai dengan sisa-sisa makanan yang diramunya. Sebagai
balasannya, si bungsu sering didatangi makhluk halus yang seakan-akan haus
darah akan membunuhnya, penampakan buaya siluman yang seolah-olah akan
menerkamnya, serta menderita penyakit secara tiba dan sembuh dengan seketika
pula tanpa ramuan obat.
Raja muda dan singgahsananya yang dibangun megah menambah kemasyhuran
kerajaan Batu Bejamban. Menurut cerita yang beredar, Batu Bejamban merupakan
salah satu kerajaan terbesar di pulau Borneo yang dihuni oleh seorang raja dari
bangsa manusia, akan tetapi mempunyai prajurit, pengawal dan rakyat dari bangsa
makhluk tidak kasat mata. Ditambah lagi lokasi Batu Bejamban berdekatan dengan
wilayah tempat bermukimnya makhluk halus secara massal, yaitu Tanah Merah (Red Land)
Di tanah itu, makhluk halus tinggal secara berkoloni membuat suatu pemukiman
layaknya manusia biasa. Konon katanya, Raja Muda sering melakukan transaksi
jual beli dengan penghuni di tanah merah tersebut. Dapat dikatakan pusat
perkotaan yang besar dan indah terdapat di wilayah itu. Hanya saja tabir ghaib
keindahan alam bunian di tanah merah, akan mudah ditembus oleh orang yang
mempunyai niat baik seperti Raja Muda.
Segala kebutuhan pangan, sandang dan papan sangat terpenuhi ketika akses menuju
kota perdagangan tanah merah dapat dilalui dengan kejujuran dan ketulusan.
Dibalik segala kemegahan tersebut, Raja Muda merasakan ada sesuatu yang
hilang. Setelah merenung panjang, beliau ingat kepada adiknya si bungsu yang
sama-sama berlayar dengannya. “Kemanakah dia sekarang?”, Raja Muda bergumam.
Karena semenjak ia ditahan di atas bukit, ingatan Raja Muda dihapus oleh para
Dewa. Dewa berkeyakinan, dengan dihapusnya ingatan Raja Muda maka segala
peristiwa mulai dari terdampar hingga terpisah dari adiknya si bungsu dapat terlupakan. Hal ini bakalan tidak akan
menggangu para dewa dalam memberikan ajaran yang baik kepada Raja Muda.
Sehingga Raja Muda akan merasa betah dan nyaman dalam menyerap ilmu kebatinan
yang diturunkan kepadanya oleh para dewa. Alhasilnya semua usaha para dewa
membuahkan hasil. Dibalik terawangan Raja Muda dari singgahsananya, tampak
sesosok tubuh kerdil sedang meramu makanan di atas kapal layar yang terdampar.
Sesekali ia memastikan sosok tersebut apakah benar adiknya yang sudah lama ia
tinggalkan. Setelah memperoleh kepastian, Raja Muda menyuruh para prajuritnya
untuk segera menjemput adiknya si bungsu ke singgahsananya. Dengan perasaan
senang bercampur takut, si bungsu digiring oleh para prajurit kerajaan menuju
Batu Bejamban. Satu demi satu pintu alam bunian terlewati, begitu juga dengan
ke 7 sumur di setiap lereng bukit. Sesekali si bungsu berdecak kagum atas apa
yang ia lihat dan rasakan. Tidak pernah seumur hidupnya melihat betapa indahnya
arsitektur bangunan luar hingga bangunan dalam kerajaan. Tidak pernah
terbayangkan dalam benaknya, dapat merasakan betapa asri dan wanginya taman
yang menghiasi setiap sudut tangga jalan menuju Batu Bejamban. Saking
terpananya, ia tidak sadar sudah berhadapan dengan seorang raja yang gagah
berani dan tampan. Karena lama baru bersua, si bungsu hampir tidak mengenali
sama sekali orang yang duduk di atas singgahsana yang megah itu.
Pengawal menyuruh si bungsu memberikan hormat, “Ayo, beri hormat kepada
Raja Muda!”. Tanpa berfikir panjang yang disuruh segera membungkukkan badan,
“Ampun tuan, beribu-ribu ampun, sembah patik harap diampun”. Raja Muda
menghampiri si bungsu dan segera menuntunnya berdiri, “Cukup adikku, sudah lama
hamba tidak bersua denganmu, bukan kehendak hati hamba untuk meninggalkanmu,
tapi karena ini semua adalah takdir dari para dewa”. Setelah mendengarkan
ucapan kakaknya, si bungsu memeluk erat dan menangis terisak-isak dipelukannya.
Ia tidak menyangka dapat dipertemukan kembali dengan kakak kesayangannya yang
sekarang sudah menjadi seorang raja. Seluruh prajurit dan pengawal kerajaan
seakan-akan larut dalam suasana haru pertemuan kedua kakak beradik itu.
Lama juga si bungsu menikmati keindahan istana Batu Bejamban dengan segala
kemegahannya, maka sudah saatnya ia mengutarakan kepada kakaknya untuk segera
pulang ke Jawa. Terasa berat sebenarnya untuk mengungkapkan hal itu, karena si
bungsu mengajak kakaknya turut serta kembali ke tanah kelahirannya. Dengan
tegas Raja Muda menolak ajakan si bungsu, dan menganjurkan agar si bungsu
pulang sendirian ke Jawa. Raja Muda tidak bisa mengingkari perjanjiannya dengan
para dewa untuk setia dan mengabdi menjadi penguasa kerajaan Batu Bejamban.
Karena jika hal itu diingkari, maka Raja Muda dapat dikatakan sudah melanggar
ketentuan takdir dari para dewa dan siap-siap akan menerima hukuman yang
setimpal. Dewa beranggapan, mengkhianati mereka sama dengan tidak mengenal budi
atas kebaikan “tunjuk ajar”[12]
yang diberikan kepada orang yang dikehendakinya. Mendengar ucapan Raja Muda
seperti itu, si bungsu dengan berat hati meninggalkan istana dengan dikawal
oleh prajurit kerajaan menyusuri tangga menuju ke tempat kapal layar yang
mereka tumpangi. Pesan yang dititipkan Raja Muda kepada si bungsu yaitu segera
mengabarkan berita dilantiknya ia menjadi raja kepada para punggawa kerajaan
Jawa dan kabar tidak kalah pentingnya adalah ia tidak akan kembali lagi ke
tanah kelahirannya. Sedangkan selama berlayar pulang, si bungsu dibekali uang
emas, makanan secukupnya, dan diawasi oleh pengawal kerajaan hingga ke laut
Jawa.
Sepulang si bungsu ke pulau Jawa, Raja Muda memerintah kerajaan Batu
Bejamban dengan arif dan bijaksana. Berbekal kekuatannya, ia membangun kota
Paloh dengan megah dan membuka jalan menuju Tanah Merah. Akibatnya, rakyat
dapat hidup dengan sejahtera dan arus perdagangan menjadi bertambah ramai.
Perlu diketahui, di kerajaan ini tidak mengenal pergantian kekuasaan. Raja Muda
akan terus menjadi raja, sedangkan
prajurit dan pengawalnya yang mengalami pergantian jika melanggar aturan yang
berlaku atau gugur di medan tugas. Layaknya sebuah kerajaan di alam fana, Raja
Muda menginginkan keamanan dan ketenangan lingkungan istana tetap terjaga. Oleh
karena itu, ia menginginkan ada orang yang memimpin pasukan prajuritnya untuk
melakukan penjagaan ketat di setiap penjuru istana. Karena dikhawatirkan,
setelah dibukanya arus perdagangan ke Tanah Merah akan membuka ruang bagi
makhluk halus lainnya untuk berbuat yang tidak baik terhadap wilayah
kekuasaannya. Ditambah lagi, sepulang si bungsu ke Tanah Jawa tentunya akan
tersiar kabar tentang simpanan harta kekayaan yang sekarang dimiliki oleh
kerajaan Batu Bejamban. Tentunya hal itu akan menambah rasa penasaran orang
Jawa untuk mendapatkan untaian berlian di wilayah istana Raja Muda. Demi
mengantisipasi ancaman yang bakal datang, Raja Muda memohon kepada dewa
kahyangan untuk mengirim seorang utusan yang akan menjadi orang kepercayaan
istana. Maka diutuslah Mustika Bintang ke Batu Bejamban yang menyerupai sinar
bintang jatuh (meteor). Ia ditugaskan untuk menjaga harta kekayaan istana yang
tersimpan di dalam gua dan menerangi daerah kekuasaan Raja Muda ketika malam
hari. Maka tidak mengherankan jika pernah terlihat oleh penerbang TNI AU yang
melintas
dengan tidak sengaja di bagian
hulu sungai Paloh pada malam hari, tampak seperti daerah perkotaan yang terang
benderang. Gedung-gedung pencakar langit berdiri dengan megah, dermaga
memanjang di bagian hulu sungai dan arus kendaraan yang berlalu lalang memadati
jalan raya perkotaan. Karena penasaran yang berlebihan, keeseokan paginya para
penerbang kembali lagi melintas di area yang sama. Betapa mengejutkan apa yang
dilihat tadi malam sama sekali bertolak belakang dengan kenyataan yang sedang
mereka saksikan di siang hari. Suasana perkotaan yang begitu mempesona berubah
seratus persen menjadi hamparan hutan lebat yang sama sekali tidak ada tanda-tanda
kehidupan. Penampakan yang dilihat oleh para penerbang di malam hari itu tidak
lain dan tidak bukan adalah hasil kerja Mustika Bintang.
Dikemudian hari, para dewa menurunkan utusannya kembali dari kahyangan
yaitu Mayangsari untuk memegang kunci gua tempat penyimpanan harta kekayaan
Batu Bejamban. Jadi lengkaplah sudah petugas penjaga kedaulatan istana Raja
Muda. Untuk memperluas jangkauan kerajaan, Raja Muda membina hubungan
persaudaraan dengan kesultanan Sambas “Alwatzikhubillah”[13],
pada masa Bujang Nadi dan Dare Nandung. Hubungan serumpun itu semakin bertambah
akrab ditandai dengan diadakannya pesta kerajaan di Semenanjung Borneo, dimana
tuan rumahnya adalah kerajaan Batu Bejamban. Adapun kerajaan-kerajaan yang ikut
serta dalam perayaan tersebut meliputi kesultanan Sambas yang diwakili oleh
Raden Sandi dan Raden Sambir, Kesultanan Brunei yang diwakili oleh Sultan
Tajudin, serta kerajaan Pontianak yang tidak jauh dari
Batulayang. Perayaan akbar itu
menghasilkan sebuah kesepakatan mengenai penetapan simbol kerajaan sebagai perlambang perekat pemersatu. Simbol yang ditetapkan dalam bentuk warna yaitu kuning,
merah dan putih. Masing-masing warna diwakili oleh kerajaan tertentu, misalnya
warna kuning melambangkan kesultanan Sambas, warna merah mewakili kerajaan
Brunei dan Pontianak,
sedangkan putih melambangkan kerajaan Batu Bejamban sebagai tuan rumah. Apa
makna dari symbol warna tersebut? Kuning menggambarkan keagungan dan kejayaan, merah
melambangkan semangat membara dan pantang menyerah, sedangkan putih memberi simbol kesucian dan kebenaran.
Pasca perhelatan akbar tersebut, tersiar kabar di daerah Sambas diserang
oleh makhluk yang kejam dan bengis. Makhluk itu berasal dari keturunan jin. Ia
terkenal dengan kekejamannya, karena membuat suatu peraturan yang sangat tidak
berperikemanusiaan. Wanita hamil disuruh mendorong perahu ke dermaga, dara
perawan dijadikan santapan sehari-hari, dan begitu juga dengan bayi-bayi akan
menjadi makanan pelepas lapar. Ia digelari Tanunggal. Melihat keadaan seperti
itu, diutuslah oleh Raja Muda seorang yang gagah berani dari Segerunding,
namanya si Tan. Sedangkan Tan sendiri berasal dari kata “tahan”
yang artinya orang yang tahan banting. Si Tan inilah yang ditugaskan untuk
melumpuhkan kekuatan Tanunggal yang sudah merajalela dengan segala
peraturannya. Berkat usahanya yang gigih, maka dalam waktu yang tidak begitu
lama, semua kekuatan Tanunggal beserta para prajuritnya dapat dimusnahkan. Hal
inilah yang menambah keyakinan dan kepercayaan Raja Muda dalam memimpin
kerajaan kebenaran Paloh. Bahwa setiap yang jahat akan mendapatkan perlawanan
oleh orang-orang yang mendambakan kebenaran.
Dari dulu hingga sekarang, keberadaan kerajaan Batu Bejamban masih tetap
ada dan terjaga. Raja Muda dipelihara oleh dewa untuk tetap terus memimpin kota
Paloh kebenaran. Walaupun secara lahiriah wujud Raja Muda bukan lagi manusia,
akan tetapi jiwanya akan tetap menjadi penguasa yang tak terkalahkan
kejujurannya. Maka dari itu, hanya orang yang jujur dan bertingkah laku baik
akan dipertemukan dengan beliau serta diperlihatkan kemegahan istana ghaibnya.
Bahkan akan menjadi pengikutnya yang setia di alam bunian. Tidak akan kembali
lagi ke dunia fana, sudah menjadi penghuni abadi kerajaan Batu Bejamban seperti
yang dialami oleh beliau semasa masih berwujud manusia. Selain itu, di bagian
hulu sungai Paloh sudah diturunkan armada penjaga istana Batu Bejamban oleh
Raja Muda. Penjaga istana tersebut berada dipusat air, dan berwujud buaya atau
dalam bahasa Sambas disebut “Jallu” Warna buaya itu mengikuti simbol kerajaan Batu Bejamban yaitu putih. Maka digelarilah
secara lengkap dengan sebutan Jallu
Puteh.
Hewan itu dengan setia menjaga pintu masuk hulu sungai Paloh yang tidak jauh
letaknya dengan keberadaan istana Raja Muda. Adapun pemimpin Jallu Puteh
berasal dari Raden Sambas yang diberi tugas oleh Raja Muda. Ia adalah Raden
Sambir. Begitu juga dengan Raden Sandi acapkali berkunjung ke istana Raja Muda
untuk menyampaikan berita penting yang dikirim oleh kesultanan Sambas. Seperti
yang terjadi pada masa kerusuhan Sambas 1998, dimana Raden Sandi mengajak Batu
Bejamban untuk bergabung dalam menertibkan pertikaian yang terjadi serta menyelamatkan
orang Melayu dari ancaman suku lain. Melalui proses itulah, maka hubungan
persaudaraan antara Sambas dan Paloh masih terjalin erat sampai sekarang
melalui media ghaib yaitu sungai Sambas.
sumber : http://kasailangger.blogspot.com/2013/05/legenda-mistis-kerajaan-ghaib-batu.html



Tidak ada komentar:
Posting Komentar